LATEST POST
latest

728x90

468x60

Mempertanyakan Logika Akal Sehat

Gemuruh berebut suara antar dua pasangan capres-cawapres Pemilu Presiden 2019 baru saja berlalu. Sejak hari pencoblosan itu telah usai, 17 April 2019, para pendukung fanatik kedua kubu tak sekencang dulu dalam meneriakkan calon presiden mana yang terbaik. Tapi, alih-alih meneriakkan mana yang terbaik, kedua kubu malah saling serang isu-isu yang jauh dari substansi dari semua problematika kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia ini. Meskipun tetap ada dialog-dialog akal sehat menggema dalam sepi lalu tenggelam dan tak tercerna oleh akal sehat setiap warga negara Indonesia ini.

Kini pemilu tinggal menunggu pasangan mana yang akan dinobatkan sebagai Presiden dan Wakil Presiden tahun 2019-2024 berdasarkan perhitungan nyata (real count) KPU. Walaupun begitu, hasil hitung cepat (quick count) dari keduabelas lembaga survey nasional telah menunjukkan bahwa Jokowi-Ma'ruf-lah yang memenangkan pemilu presiden dan wakil presiden 2019 ini. Anehnya, kubu Jokowi-Ma'ruf tetap berhati-hati untuk mengklaim kemenangan. Sementara kubu yang kalah berdasarkan quick count, yaitu kubu Prabowo-Sandi, justru sudah mengklaim kemenangan berkali-kali.

Kubu Prabowo-Sandi menuduh bahwa lembaga-lembaga survey yang ada saat ini memberikan hasil quick count yang tidak valid atau terkesan terstruktur untuk melakukan tipu-tipu. Sehingga yang dimenangkan dalam hasil quick count adalah petahana, pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin. Bahkan Prabowo secara jelas dalam pidatonya menyebut bahwa lembaga-lembaga survey ini pembohong dan disuruh angkat kaki ke antartika untuk membohongi para penguin di sana. Prabowo menuduh bahwa lembaga-lembaga survey ini ada yang "membiayai" sehingga kredibilitas dalam bekerjanya pun patut dicurigai. Yang jelas Prabowo sukses mengaduk-aduk emosi para pendukung dan simpatisannya, dan mungkin ini bisa jadi meluas ke seluruh warga Indonesia.

Namun, disela-sela ketidakpercayaannya pada quick count, BPN (Badan Pemenangan Nasional) Prabowo-Sandi percaya pada survey internal. Menurut BPN penghitungan suara di internal mereka bukanlah quick count, melainkan real count. Lalu munculah klaim bahwa Prabowo-Sandi menang 62%, lalu berubah lagi 60%, berubah lagi 56% atau 54%, dan terus berubah-ubah hingga sekarang. Yang perlu dipertanyakan adalah bagaimana mungkin BPN bisa percaya pada perhitungan internal mereka yang jelas-jelas dan pasti mereka sendiri yang membiayainya padahal mereka tidak percaya pada quick count dari berbagai lembaga survey independen yang menghasilkan hasil akhir kurang lebih sama yaitu kemenangan pada pasangan Jokowi-Amin. Bagaimana mungkin klaim kemenangan sepihak terjadi, padahal ketika ditanya data real count mereka itu seperti apa dan diminta dibuka ke publik pun, mereka tidak sanggup menjawab atau memperlihatkannya. Bukankah itu lebih tidak objektif lagi? Bagaimana mungkin angka-angka itu selalu berubah-ubah? Padahal hasil penelitian atau survey yang valid adalah hasil menunjukkan angka yang selalu konsisten, karena sampel yang digunakan telah memenuhi kriteria sampel yang dapat mewakili dari seluruh keberagaman data atau populasi data.

Lalu salah satu dari anggota BPN pada salah satu acara di stasiun tv swasta nasional ketika ditanya tentang data hasil real count mereka seperti apa, dijawab bahwa perhitungan real count mereka belum selesai. Lalu apa yang melandasi mereka untuk klaim kemenangan sepihak itu selain nafsu yang berlebihan untuk mendapatkan kekuasaan?

Mari mempertanyakan logika akal sehat kita kembali!
« PREV
NEXT »

No comments